
Kajian Online Pekanan
Pekan ke-5: Suplemen
Edisi Januari 2026
FIKES UNIMMA
Serba serbi tentang ‘ain
Berikut beberapa hal seputar ‘ain yang perlu diketahui oleh seorang Muslim:
Pertama
‘Ain artinya terkena efek negatif dari pandangan mata. ‘Ain berasal dari kekaguman orang yang melihat sesuatu, lalu diikuti respon jiwa negatif. Kemudian, jiwa tersebut menggunakan media pandangan mata untuk menyalurkan racunnya kepada yang dipandang tersebut (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah no. 1/271 oleh Lembaga Fatwa Saudi Arabia).
Kedua
‘Ain adalah nyata dan fakta, sebagaimana telah diisyaratkan Nabi berabad-abad lalu dalam hadits shahih (HR. Muslim no.2188, 2195; Shahih).
Ketiga
‘Ain disebabkan karena pandangan mata yang disertai rasa iri atau dengki atau hasad. Hal ini menunjukkan bahwa hati yang kurang bersih dapat menyalurkan energi negatif kepada orang lain melalui mata.
Namun jika hanya pandangan biasa dengan hati yang netral, maka tidak masalah.
Keempat
‘Ain dapat menyebabkan hal-hal yang mengganggu dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, sakit tanpa sebab jelas, merusak keharmonisan rumah tangga, rencana yang sering gagal, barang mudah atau cepat rusak, atau bahkan menyebabkan kematian.
Hanya saja, jika seorang tengah mengalami sebagian keadaan di atas, maka sangat sulit dipastikan apakah karena ‘ain atau tidak.
Kelima
Mencegah adalah yang terbaik.
Misalnya, mendoakan kebaikan ketika melihat orang lain mendapatkan kenikmatan, membatasi atau tidak berlebihan memposting sesuatu bersifat privasi yang potensi memicu iri, berdoa agar terhindar dari ‘ain orang lain, serta mengendalikan hati untuk tidak memiliki rasa iri.
Pencegahan lainnya yaitu bahagia melihat orang lain mendapatkan nikmat. Sekalipun nikmat itu mungkin yang sedang sangat diharapkan saat ini. Karena, tanda kebaikan iman seseorang salah satunya adalah ketika merasa bahagia melihat orang lain juga bahagia (HR. Bukhari no.13; Shahih).
Sebaliknya, jika kita justru merasa gundah atau tidak nyaman saat menyaksikan kebahagiaan orang lain, maka ini bisa menjadi indikasi adanya sesuatu yang kurang beres dengan kondisi hati atau kualitas keimanan kita.
Kesimpulannya, apa yang kita pandang terkadang berdampak kurang bagus terhadap yang dipandang (Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid karya Abdurrahman bin Hasan). Namun yang terpenting saat ini adalah bukan masalah memandang, akan tetapi dalam kondisi apa hati kita ketika memandang sesuatu tersebut.
Semoga Allah menjaga kita semua dari ‘ain, aamiin.
Recent Comments