Al Khaafidh

Kajian Online Pekanan
Pekan ke-1: Seri Aqidah Nama & Sifat Allah
Edisi November 2025
FIKES UNIMMA

Al Khaafidh

Al Khaafidh bermakna bahwa Allah mampu merendahkan derajat siapa saja yang Dia kehendaki menurut kebijaksanaanNya (QS. An Nahl ayat 97, Ar Ra’d ayat 26).

Nama ini mengajarkan kepada setiap Muslim agar selalu menjaga diri dari batasan Allah. Karena salah satu alasan mengapa Allah merendahkan sebagian manusia adalah disebabkan perbuatan mereka sendiri.

Banyak orang yang awalnya disegani dan dihormati, namun setelah melakukan satu atau dua larangan, maka dalam waktu yang singkat, mereka kehilangan rasa hormat dan penghargaan dari orang lain.

Nama atau sifat Al Khaafidh juga sebagai pengingat bahwa manusia akan selalu membutuhkan Allah, dalam keadaan apapun. Semua bentuk status sosial dan prestasi yang kita miliki dunia ini sifatnya sementara, tetapi apa yang kita bawa menuju akhirat nanti adalah bekal yang sebenarnya.

Semoga Allah menjaga kita semuanya, Aamiin.

Pastikan halal

Kajian Online Pekanan
Pekan ke-5: Suplemen
Edisi Oktober 2025
FIKES UNIMMA

Pastikan halal

“Sedikit tapi halal itu akan lebih mendatangkan berkah. Sedangkan banyak namun haram, maka akan cepat habis (tidak mendatangkan kebaikan)” (Majmu’ah Al Fatawa no.28:646 karya Ibnu Taimiyyah).

Pesan di atas menunjukkan bahwa memilih segala sesuatu yang halal adalah sebuah prioritas bagi seorang Muslim.

Sayangnya, sebagian orang kerap kali tidak sabar dengan rezeki yang halal dan sedikit, sehingga mereka mencari cara untuk mendapatkan tambahan dengan metode yang tidak dilegalkan Allah.

Dan…benar apa yang disampaikan Nabi bahwa akan datang suatu zaman dimana manusia sudah tidak peduli lagi darimana harta yang ia dapatkan, apakah halal atau haram (HR. Bukhari no. 2083; Shahih).

Oleh karena itu, sebelum makan, minum, menggunakan, menentukan, mengambil, atau bahkan membeli sesuatu, pastikan statusnya sudah halal.

Semoga Allah senantiasa menganugerahkan kita harta yang halal dan menjauhkan kita dari harta yang haram, baik sedikit maupun banyak, Aamiin.

Kepribadian Seorang Muslim (18): Mengutamakan kewajiban daripada hak

Kajian Online Pekanan
Pekan ke-4: Seri Kepribadian Seorang Muslim
Edisi Oktober 2025
FIKES UNIMMA

Kepribadian Seorang Muslim (18): Mengutamakan kewajiban daripada hak

Dalam Surat An Nahl ayat 97, Allah memerintahkan kepada setiap Muslim untuk memprioritaskan menunaikan kewajiban terdahulu. Kemudian setelah itu, Allah berjanji akan memberikan haknya dalam bentuk pahala atau bentuk kebaikan lainnya.

Ayat tersebut menjelaskan tentang prinsip hidup dan karakter seorang Muslim bahwa menjalankan kewajiban adalah sebuah prioritas, sebelum menerima hak. Singkat kata, kewajiban adalah prasyarat mendapatkan hak apapun peran seorang Muslim saat ini.

Namun, pembalikan prioritas ini kerap menjadi akar masalah di banyak bidang kehidupan. Bahkan, fenomena ini sering terlihat ketika seseorang berlebihan menuntut beragam hak. Namun di lain sisi, perhatian terhadap kewajibannya masih minim atau dilakukan setengah hati.

Oleh karena itu, prinsip yang diajarkan Allah dalam surat di atas sangat simpel dan sederhana. Jika dilakukan dengan istiqamah, maka akan dapat mencegah kompleksitas kewajiban dan hak seorang Muslim.

Semoga bermanfaat.

Tanda Hari Kiamat (28): Meluasnya sifat bakhil

Kajian Online Pekanan
Pekan ke-3: Seri Tanda Hari Kiamat
Edisi Oktober 2025
FIKES UNIMMA

Tanda Hari Kiamat (28): Meluasnya sifat bakhil

Bakhil atau kikir dipahami sebagai perilaku enggan mengeluarkan harta untuk hal baik yang disyariatkan. Sifat ini tidak hanya terbatas pada harta, melainkan juga mencakup keengganan dalam melakukan kebaikan lainnya, seperti meluangkan waktu, ilmu, pemikiran, atau tenaga.

Nabi menyampaikan bahwa ketika semakin dekat Hari Kiamat, sifat bakhil ini akan semakin meluas (HR. Muslim no.157; Shahih). Artinya, kita akan semakin mudah melihat banyak orang berperilaku tersebut dalam hal-hal yang semestinya tidak boleh bakhil.

Hal ini mengindikasikan bahwa semakin dekat Hari Kiamat, akan terjadi banyak kemunduran perilaku.
Sehingga terjadi ketidakproporsian antara perilaku baik dan buruk. Bahkan cenderung banyak buruknya.

Oleh sebab itu, dengan keimanan yang dimiliki, seorang Muslim semestinya mudah membantu orang lain sepanjang itu bukan kemaksiatan dan tidak ada unsur kezhaliman atau mengganggu.

Semoga bermanfaat.

Tafsir Surat Al Fil (Bagian 2 – Terakhir)

Kajian Online Pekanan
Pekan ke-2: Seri Tafsir Juz ‘Amma
Edisi Oktober 2025
FIKES UNIMMA

Tafsir Surat Al Fil (Bagian 2 – Terakhir)

Bagian 1 dari Tafsir surat ini ada di Alamat link berikut:
https://fikes.unimma.ac.id/tafsir-al-fil-bagian-1/

Berikut kelanjutannya.

Keempat.
Ketika rombongan pasukan gajah memasuki Mekkah, seketika itu penduduk di sana ketakutan karena tidak memiliki apa-apa untuk melawan. Akhirnya, Allah mengirimkan “thairan ababil” yakni burung yang datang kelompok demi kelompok. Setiap burung membawa tiga batu panas seukuran kerikil yaitu satu diparuh dan dua di setiap kakinya. Setelah diserang menggunakan batu-batu tersebut, akhirnya rombongan pasukan Abrahah hancur dan kalah (Majmu’atul Fatawa no.27:355-356 karya Ibnu Taimiyah).

Bahkan dari peristiwa itu, hanya satu tentara yang dikabarkan selamat. Namun kondisinya sangat parah dan meninggal dunia ketika sampai kembali di Yaman. Padahal jarak Mekah ke Yaman kira-kira 1000-1400 kilometer.

Kelima.
Kisah ini menunjukkan bahwa ketika seseorang sudah berniat untuk bermaksiat kepada Allah, maka sejauh apapun jaraknya pasti akan ditempuh demi mewujudkan keinginannya.

Keenam.
Allah memiliki pasukan khusus yang tak terkalahkan untuk menjaga syariat Islam baik di Mekah dan Madinah.

Selain kisah Burung ababil tadi, ada satu kisah shahih lain yang sangat terkenal yaitu gagalnya 5 kali proses pencurian jasad Nabi Muhammad shallallaahhu alaihi wa sallam.

Ketujuh.
Surat ini mengajarkan bahwa Allah memiliki kekuasaan penuh menjaga Islam. Segala bentuk perbuatan manusia yang bersifat merusak agama, maka pada akhirnya akan kalah.

Semoga bermanfaat.

Al Baasith

Kajian Online Pekanan
Pekan ke-1: Seri Aqidah Nama & Sifat Allah
Edisi Oktober 2025
FIKES UNIMMA

Al Baasith

Al Baasith merupakan salah satu nama Allah yang bermakna bahwa Allah maha meluaskan rezeki dan melapangkan hati manusia. Di antara dalilnya yaitu dalam QS. Asy Syuura ayat 27 dan An Nisa ayat 32.

“Meluaskan” dapat diartikan bahwa Allah menambah jumlah rezeki seseorang sehingga ia dapat merasakan kecukupan hidup setelah sebelumnya mengalami kesulitan. Selain itu, Allah juga mampu melapangkan hati seorang Muslim yaitu memberinya kebahagiaan dan ketenangan hati setelah sebelumnya dilanda kesedihan atau kegelisahan.

Oleh karena itu, semestinya seorang Muslim semakin berterimakasih dan menggunakan karunia tersebut untuk hal-hal yang mendatangkan kecintaan Allah.

Semoga bermanfaat.